Rabu, 11 September 2019



Foto pribadi : Di Sebuah Stasiun Kaohsiung, Taiwan (@wdnoviandi)

Terlepas benar atau salah, tapi kita harus percaya bahwa setiap proses adalah perjuangan dan setiap usaha adalah aksi nyata dari fraksi-fraksi mimpi yang tersusun rapi.
Sebuah sudut pandang dari seseorang yang tengah berjuang.

Golden Ticket
Berhubungan dengan kegalauanku beberapa waktu yang lalu memilih antara kerja dulu atau persiapan buat beasiswa?
Hmm.. membingungkan memang dan dua-duanya tidak pernah salah, juga tidak ada yang paling benar. Semua tergantung sudut pandang kita dalam memprosesi hidup ini.

Teruntuk buat para pencari beasiswa (scholarship hunters), kita harus mengenal apa yang namanya golden tiket.

Golden Ticket adalah sebuah keywords yang ku peroleh dari hasil riset dan sharingku dengan beberapa orang-orang yang berpengalaman dan dari beberapa tutorku di kampung-inggris, emang sih aku sendiri belum punya pengalaman banyak soal ini dan jujur saya sedang mengalami masa-masa ini, masa-masa dilema dengan pilihan, masa-masa bertumbuh dengan proses. Aku adalah Scholarship hunter, cita-citaku memang ingin melanjutkan studi karena aku punya mimpi untuk menjadi dosen/peneliti. Beberapa waktu yang lalu, aku sempat goyah, tergiur dengan beragam tawaran pekerjaan yang justru aku seharusnya lebih tenang untuk belajar banyak dari pengalaman dan wawasan orang di luar dari berbagai sudut pandang tentunya. Setidaknya aku bisa menganalisis dan belajar dari mereka, orang-orang yang menurutku menginspirasi dalam hidup.

Jadi, kita itu pastinya punya tujuan dalam hidup, dan punya cara masing-masing dalam menjalaninya, ada yang mulus (fast-track), ada juga yang merangkak seperti saya ini hahaha. Didalamnya ada pilihan-pilihan yang cukup rumit bagi kita menghadapi masa pasca-campus life. Kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu menjadi Job Seekers (julukan bagi orang yang mencari pekerjaan) atau Scholarship Hunters (julukan bagi orang2 pejuang beasiswa), #beda cerita lagi kalo job creator atau wedding performers atau apalah julukannya hihihi.

Kenapa scholarship  saya sebut pejuang, karena menurutku ini cukup berbeda prosesnya dengan job seeker, berbeda cara olahnya. Ketahanan mental dalam pikiran, usaha dan doa tentunya. Dua hal ini bakal menguji konsistenitas kita dalam menggapai sesuatu, saya juga pernah mendapatkan cerita tentang orang yang salah langkah dalam memilih dan akhirnya menyerah dengan kondisi yang dia pilih, dan dia bilang bahwa dia telah salah melangkah, "coba dulu ngga gini ya, tapi ya sudah jalani aja". Kalo analisisku itu yang dinamakan resiko. Setiap kita dalam memilih keputusan apapun itu pasti ada resikonya dan kita wajib bertanggungjawab atas keputusan yang dipilih. We should have a responsibility whatever we choose.

Kenapa job seeker dan kenapa scholarship hunters?

Pertanyaan ini sebenernya adalah pertanyaan retoris, yang sejatinya balik lagi ke diri kita masing-masing. Saya jadi teringat guru ngaji saya (sebut saja ustadz lah ya) itu pernah bilang tidak akan pernah berkumpul dua hal dalam satu fokus, contoh kita tidak bisa menikmati menghafal quran dibarengi dengan kita yang masih hobby menghafal lagu/nyanyian (musik), fokus kita akan terbelah, itu sudah fitrahnya manusia, begitupula dengan hal ini kita nggak bisa fokus dalam dua hal, job seeker iya, scholarship hunters iya. Intinya pilih salah satu jangan rakus haha, atau sederhananya deh ada dua nasi di dapur, yaitu nasi goreng dan nasi biasa, coba pernah gak makan dua-duanya sekaligus dalam satu piring, dan bagaimana rasanya? apa enak? saya pernah dan ngerasa enek makannya. Itu simpelnya.

Keputusan ada di tangan kita yang tentunya atas segala takdir yang telah Allah tetapkan sebelum penciptaan alam semesta ini, dan masa depan kita adalah bagaimana kita melangkah hari ini.

Lalu ada apa dengan Golden Ticket?
Golden ticket itu adalah kunci untuk bisa diterima dalam beasiswa, dan kita tahu bahwa setiap beasiswa mempersyaratkan kompetensi BAHASA INGGRIS/English Profiency Skill (IELTS/TOEFL) dan ini berlaku 2 tahun sertifikatnya. Beberapa scholarship bervariasi ada yang minta IELTS 5.5-6.6/ TOEFL ITP 500-550. Bagiku dapetin golden ticket itu nggak mudah, kenapa?
1. bukan Native (orang inggris asli)
2. nggak biasa belajar bahasa inggris
3. baru nyadar kalo itu penting untuk scholarship *penyesalan memang selalu datang di akhir

Nah,
jadi setelah berbagai pertimbangan, selagi kita masih disupport (dalam masalah finansial termasuknya), masih didukung oleh keluarga dan tidak ada hal yang mendesak, jika kita memang ingin menjadi Scholarship hunters coba buat fokus, selagi masih memiliki waktu luang dan kesempatan sebelum disibukkan dengan hal lain.

Prepare Yourself and Grab Your Golden Ticket Now!

Habis itu terserah deh, mau kerja dulu 6 bulan, setahun atau sebelum 2 tahun masa berlaku Golden Ticket itu, kita akan berada dalam posisi aman. Karena ketahuilah, beberapa orang bilang bahwa jika kita sudah sibuk bekerja, maka kita lupa dengan tujuan awal dan kita harus belajar bahasa inggris kembali untuk meraih Golden Ticket - beberapa nasehat yang diberikan oleh Tutor Interview Class (thanks Mr.)

Enaknya ketika kita udah dapet yang namanya Golden Ticket, maka kemanapun kamu bisa Apply dan duduk manis banyakin doa,

Beliau bilang juga menambahkan "Kalo kamu mau maksa ambil Job, berarti kamu berputar 180 derajat dari tujuanmu, maka saya saranin lupain scholarship dari sekarang!"  perjuangan hari ini nampak akan sia-sia. Terakhir, kembalikan lagi ke diri kita dan kenali diri kita lebih dalam. Banyak-banyak berdoa dan minta pertolongan Allah agar kita tidak salah dalam melangkah.

Fokus.

Selamat belajar.

Sebuah catatan kecil
ditulis di Pare, ba'da Maghrib 12 Muharram 1441 H
11 September 2019

Senin, 22 April 2019

Foto pribadi : Sebuah Perjalanan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA 2), Malaysia
(@wdnoviandi)


Pernahkah terpikir bahwa terkadang sesuatu yang amat sederhana itu boleh jadi rumit bagi seseorang. Atau bahkan sebaliknya, masalah yang rumit boleh jadi sederhana bagi sebagian orang. Cobalah sejenak kita perhatikan persepsi demi persepsi orang maka tentulah akan berbeda-beda, sebuah persepsi tentang hari ini.

Hari ini..

Adalah dimana kamu memilih diantara pilihan yang berat, diantara kerumitan soal-soal sederhana yang boleh jadi memaksa hati ini untuk melirih, rapuh. Dua pasang mata yang berkaca-kaca untuk sebuah harapan yang masih panjang. Soal mimpi-mimpi dan masa depan. Memilih untuk sebuah pilihan yang tepat.

Hari ini..

Adalah hari yang terbaik untuk ku ucapkan terimakasih. Terimakasih untuk rasa yang pernah menyapa, cinta yang pernah hadir dan pemahaman yang telah mengajarkanku arti sebuah bijak, dewasa. Meski semua itu tidak mudah menjalaninya.

Adalah hari yang terbaik untukmu yang pernah hadir dalam hidup ini, yang telah memberi warna dalam setiap episode kehidupanku, dan yang telah memutuskan keputusan yang terbaik, untuk meninggalkan sebuah perasaan, perasaan yang belum semestinya dipupuk. Perasaan yang sungguh sebetulnya sangat sederhana.

Waktu terus berputar dan kita hidup bukan saja untuk hari ini, banyak hal yang harus kita lakukan, untuk kembali menata hati, memperbaiki diri.

Hari yang akan membaik,

Adalah hari ini, yang akan menjadi hari diantara hari-hari yang baik telah terlewati. Hari yang harus dengan teganya membunuh rasa rindu. Hari yang mengajarkan kita untuk tidak bergantung kepada makhluk, apalagi kepada manusia yang sangat lemah ini. Hari yang dengan sadis memikul kembali perasaan yang harus disimpan rapi. 

Hari ini akan terus membaik yang jika memang pemahaman itu telah sampai kepada kita dengan sempurna, maka akan tiba hari diantara hari yang paling baik. Karena ku percaya hari-hari kedepan adalah hari-hari yang membahagiakan untuk aku dan dirimu.

Pastikan, yakinkan, ada rindu yang akan menjemputmu di waktu yang tepat. Dengan cara yang tidak mengecewakan bersama janji-janji yang harus ditepati. Maka bergantunglah kembali kepada sang pemilik hati agar kau tak pernah merasakan sebuah kecewa.

Dan ketahuilah semua ini sungguh amatlah sederhana.
Semoga kedepan adalah hari-hari yang akan lebih baik.

_
Tembalang, 22 April 2019


Minggu, 10 Februari 2019

Foto pribadi : Sebuah Perjalanan di Yancheng District, Kaohsiung City, Taiwan
(@wdnoviandi)

Pagi menjelaskan lebih baik. Pagi yang selalu membuat hari tersenyum. Aku ditemani bunga-bunga yang sepi. Separuhnya aku titipkan. Jauh ditinggal perasaan. Jangan buat bunga-bunga itu layu. Senatural kisah ini. Biarlah ia tumbuh dan berkembang.

Ketika embun-embun bergelayut di dedaunan, udara melegakan. Mentari mengajariku semangat yang menghangatkan. Namun pagi ini ia tak terlihat dari ujung timur. Aku terbangun pagi bersama awan stratus dan bunga pagi.

Cinta itu bukan dicari. Ia datang dengan sebuah pertemuan-pertemuan yang tak terduga. Keajaiban-keajaiban yang datang. Sepertinya bunga lebih sabar menanti. Untuk tumbuh lalu berkembang. Mempercantik hati, mematangkan fisik, dan memantaskan diri. Saling memahami.

Setiap hari adalah berbeda. Tapi aku berharap esok pagi, hariku selalu dimulai dengan senyuman dirimu. Senyuman yang sama. Senyuman yang selalu menjadi alasanku untuk selalu bersemangat.

Biarkan aku tegar bersama pagi. Aku cukup mengerti, ketika tidak ada yang disembunyikan. Ketika perasaan itu mewakilkan. Bunga-bunga pagi yang menemani.

Pagi adalah awal yang baik. Penjelasan-penjelasan yang harus mulai dipahami dengan lebih baik. Saat pengharapan itu ditanamkan. Aku harap akan lebih baik jika kita menjaga bunga-bunga itu. Rawatlah ia dengan baik. Hingga esok kita memanennya bersama.

Mengapa tidak kita coba untuk duduk tenang. Melepas penat pagi dengan secangkir kopi, teh atau susu di pojok warung sebelah. Berharap esok adalah selalu menjadi pagi yang lebih baik. Mengejar segenggam harapan dan menggapai semua mimpi-mimpi. Mimpi-mimpiku dan mimpi-mimpimu. Mimpi bersama dengan visi yang sama.

Duduklah bersamaku pagi ini. Bersama bunga-bunga pagi ini. Nikmati pagi dengan senyuman hangat. Senyuman yang menjadikan alasanku untuk selalu bersemangat. Sehangat mentari pagi. Seperih apapun perasaanmu. Sesakit apapun soal menunggu. Jadilah bunga-bunga pagi yang selalu menawan.

_
Surabaya, 7 Februari 2019

Selasa, 05 Februari 2019

Tujuh puluh kilometer dari kota ini melesat dua buah roda menuju sebuah menara. Artistik yang mengesankan, begitu indah terhiasi nuansa kental jawa. Aku takjub menatapnya. Ornamen-ornamen antefiks menyempurnakan konstruksi itu. Akulturasi dakwah yang menyelaraskan perbedaan menjadi saksi sejarah bahwa pernah tegaknya kebenaran. Menara dengan ketinggian delapan belas meter itu berdiri kokoh. Tiang-tiang pancang yang gagah menjadi saksi bahwa betul-betul kebenaran itu pernah jaya di masanya.

Dua roda itu melesat dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam konstan. Cerita-cerita kuno dan kepercayaan-kepercayaan diluar nalar akal sehat merebak. 360 derajat berbanding terbalik dari masa jayanya kebenaran itu. Perlahan sudah semestinya pemahaman-pemahaman yang baik itu disampaikan. Penerimaan yang diterima secara perlahan itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ini adalah soal hati ke hati. Hikmah.

Jika kemarin ditemani ketidaksempuraan. Hari ini aku ditemani sebuah simpul kebahagiaan dengan harapan-harapan dan janji-janji yang harus ditepati. Mengajaknya menyusun cerita untuk sebuah mimpi. Karena hidup bukan cuma soal hari ini, pun bukan soal satu-dua hari. “Berjanjilah, aku akan berusaha menjadi yang terbaik.

“Tidak ada kata besok untuk urusan ini dik, besok saja. Lusa atau besoknya lagi, bisa jadi esok engkau akan seperti itu, mengulanginya. Siklus itu akan begitu-begitu saja, tetapi bertekadlah untuk selalu mulai hari ini, sekarang, dan menanam didetik ini. Berjanjilah, berjanji pada dirimu sendiri.

Esok, lusa atau lebih cepat dari kata nanti. Jika engkau merawat dan memupuknya dengan baik, kau akan menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan buah-buah ranum yang diharapkan oleh setiap insan. Mimpi-mimpi itu akan kau raih dengan indah. Percayalah”.

Aku menyeka pipiku yang basah. Hujan perlahan turun, lebat dengan sempurna. Dimulai detik ini aku berjanji untuk melaksanakan tugas-tugasku dengan baik, sebagai seorang anak, seorang adik, dan seorang laki-laki yang tangguh. Laki-laki yang akan membawa seseorang dalam keluarga. Aku harus kuat, setegar daun yang rapuh dihempas badai angin sore kemarin. Mengikhlaskan.

----------

Sore ini kabut hitam mulai menyelimuti awan. Sore dengan harapan-harapan yang panjang. Sore dengan helaan napas tertahan. Sore dengan rintikan hujan yang lembut. Aku tidak bisa memastikan hari ini, keputusan kemarin adalah sangat tepat. Aku tak memaksamu untuk menunggu. Untuk apa menunggu jika memang ada yang lebih baik untuk menemani sebuah perjalanan.

Bagiku sejarah bukanlah kenangan. Sejarah adalah kunci peradaban, kunci dari sebuah kebangkitan kebenaran. Jangan lupakan sejarah jika engkau sendiri tidak ingin dilupakan. Sekali lagi sejarah bukan soal kenangan. Sejarah ada untuk dipahami, sejarah ada agar engkau bisa berhikmah dalam bersikap. Santun dalam menyampaikan pemahaman yang baik.

Aku selalu mencoba mencari cara lain untuk membuat kisah ini menjadi cantik. Secantik harapan-harapan yang baik dengan tekad yang sama. Aku tak pernah seserius ini sebelumnya, pun sepertinya engkau begitu. Awan sore ini betul-betul cantik, sempurna membalikkan senja menjadi bendungan air yang tertahan. Hujan deras sore ini.

Rangkailah mimpi-mimpi mulai dari sekarang. Catatlah bahwa kita tidak lagi hidup dimasa lalu, jadikan itu pelajaran untuk menjadikan diri ini lebih baik. Hiduplah hari ini, dan pandanglah kedepan untuk menghadapi hari-hari yang kita rangkai bersama dalam doa.

Serapi apapun harapan yang disusun, bangunlah ia diatas kecintaan kepada Yang Maha Membolak-balikkan Hati agar engkau tak pernah mengalami kecewa. Berlindunglah hanya kepadaNya, mohonlah agar bisa saling menyempurnakan. Tidak pernah ada soal putus asa dalam kamus hidupku. Hari ini aku diam bukan berarti tidak serius, hanya saja caraku serius bukan dengan untaian kalimat-kalimat omong kosong. Caraku berbeda, seperti halnya aku dan dirimu

Tujuh puluh kilometer kembali melesat untuk kembali ke kota awal kami bertemu. Kota tempat kita mengukir lima tahun berkarya. Meninggalkan menara dengan sejarah yang tak terlupakan. Sempurna. Hujan sore ini begitu indah. Hari-hari yang lebih baik. Bersama biru, hitam dan kelabu.

Tempat ini adalah kota singgah. Kota yang penuh dengan sejarah. Maka jadilah saksi sejarah. Tidak sekadar singgah atau hanya menjadi tempat singgah. Menara, sebuah sejarah yang tak terlupakan. Saksi-saksi bisu, waktu-waktu yang mencatatnya bahwa kebenaran pernah jaya dimasa itu. Semoga pemahaman-pemahaman baik itu segera muncul. Perbedaan akan lebih indah asalkan dibangun pada prinsip yang sama.

Ketahuilah, sejarah itu takkan pernah terlupakan, kecuali memang dilupakan. Ia akan tercatat oleh waktu yang berbeda dengan sebuah kenangan. Ia hanya bisa diratapi atau boleh jadi ditangisi. 

Menara itu adalah menara kudus.
_
Semarang, 5 Februari 2019

Minggu, 03 Februari 2019

Foto pribadi : Weiwuying MRT station, Lingya District, Taiwan
(@wdnoviandi)


Aku sendiri tidak sempurna, jauh dari kata itu. Jika dirimu tidak bisa untuk menerima, saat ini juga aku memilih untuk mundur. Itu jelas akan lebih baik, suka atau tidak suka adalah pilihan.

Ketahuilah..
Aku tidak memilih yang sempurna. Aku memilih yang bisa bersama menjadi lebih baik, yang membersamai untuk menjalani hidup dan yang mau menerima ketidaksempurnaan. Soal sempurna atau tidak, sebetulnya itu bukan urusan kita.

Aku sendiri tidak sempurna. Urusan kita adalah mau belajar menjadi lebih baik atau tidak?
Bagiku ketidaksempurnaan itu mengajarkan banyak hal. Belajar menemukan hal-hal baru, memperbaiki setiap kekurangan dan berjuang untuk sebuah mimpi.

Ketidaksempurnaan mengajarkan arti sebuah penerimaan.

Jika enggan menerima, aku memilih mundur detik ini juga.
Jadilah diri yang siap untuk saling menyempurnakan.
Memantaskan diri.

_
Semarang, 3 Februari 2019

Sabtu, 02 Februari 2019



Foto pribadi: disebuah kota transit perjalanan indonesia-taiwan, Kowloon, Hongkong
(@wdnoviandi)

Satu hari terlewati sudah. Untaian kalimat-kalimat indah tersampaikan. Potongan harapan yang berubah menjadi sebuah janji. Dua tahun yang berat untuk ku jalani. Aku bersama tulisan-tulisan ini, akan menemani malam-malam yang sendiri.

Aku belum lama bertemu. Berjumpa pada waktu-waktu yang tidak tepat. Hanya hitungan hari. Seminggu tetaplah tujuh hari, sehari adalah hitungan dua puluh empat jam. Sedetik bersamamu saja tak ingin ku lewatkan. Waktu yang menyakitkan untuk dikenang. Tapi pahamilah, tidak selamanya kenangan itu menyakitkan. Hanya saja ada proses yang harus diterima dengan penerimaan yang baik.

Satu hari terlewati sudah. Hari-hari yang menjadi sepi. Ada hati yang harus menerima. Ada cinta yang harus dipahami. Melepaskan. Dipaksakan sekalipun rindu itu setiap hari semakin menjadi. Terimakasih untuk sebuah cerita. Terimakasih telah mau mengenal diri ini dengan baik. Aku akan tetap menyeleksi, memilih dan memutuskan. Begitupun dirimu. Bagiku, memilihmu adalah sebuah pilihan.

Selepas hujan turun. Selalu banyak kenangan melintas. Kenangan-kenangan yang tak sengaja hadir ditengah rumitnya kehidupan. Aku lebih tegar dari satu hari yang lalu. Cerita ini sederhana saja. Karena cinta membuatnya lebih sederhana.

Malam-malam dengan lampu yang menerangi. Bintang-gemintang yang berkelip. Rembulan yang sedikit redup tertutup awan. Mengilustrasi dipojok jendela kamar. Dua tahun yang harus ditepati. Janji untuk berbakti, mengikhlaskan perasaan. Jangan pernah lupakan bahwa kita pernah memiliki rasa yang sama.

Satu hari terlewati sudah. Satu hari yang cukup indah. Malam-malam dengan penuh senyuman. Suara-suara yang lembut, suara keputusan. Masih terekam dalam memori ingatan. Butuh waktu untuk benar-benar melepaskan.

Setiap yang singgah memberikan pelajaran. Setiap yang memutuskan harus menerima konsekuensi. Pun setiap yang berkomitmen harus menepatinya. Tak perlulah engkau larut bersedih hati. Jangan pula kau kecewakan hati ini. Semoga hari-harimu, hari-hariku selalu menjadi hari-hari yang baik. Diliputi dengan doa-doa yang sama. Doa-doa yang melesat ke langit, mengetuk pintu takdir. Untuk membersamai rasa diwaktu yang tepat. Meski kita ini berbeda.

Satu hari sudah terlewati dengan tegar.

_
Semarang, 2 Februari 2019


Jumat, 01 Februari 2019


Foto Pribadi: Zinnia Flower di kota Kaohsiung, Taiwan
(@wdnoviandi)


Selamat pagi…
Potongan waktu malam yang telah berganti
Pagi yang masih diliputi kesunyian
Tetesan embun yang mulai bergelayut rapi didedaunan
Rembulan yang perlahan redup
Fajar yang mulai tersenyum memberikan sebuah harapan
Tiada hati yang lebih indah daripada hati yang menerima
Keikhlasan yang tulus untuk memahami sebuah keputusan

Selamat pagi…
Malam yang telah terlewati
Air mata yang telah menghujam hati
Membasahi sedikit pelupuk mata
Aku menyeka seolah tegar dan engkaupun menangis tertahan
Sebuah kejelasan, yang memang harus dijelaskan
Aku takzim menatapnya, kagum dengan komitmennya
Janji-janji yang harus ditepati
Dua tahun yang harus dilewati

Selamat pagi…
Disaat ku kembali menatap langit yang mulai berubah
Potongan bintang yang perlahan menghilang
Tak seindah malam ini
Bintang yang jelas kulihat dihadapanku
Malam-malam yang menakjubkan
Sebuah keputusan
Janji-janji yang harus ditepati
Semangat itu harus kembali

Selamat pagi…
Waktu yang telah terlewati
Tidak seharusnya aku mengumbar rasa ini
Biarkan ia tetap tersimpan rapi dihati
Seperti sedia kala, mungkin tak akan sepedih ini
Seharusnya aku tak sejauh itu
Seharusnya aku tetap diam
Aku kecewa pada diriku sendiri
Janji-janji yang harus ditepati

Selamat pagi…
Ketika semangat harus disusun kembali
Menjalani tak semudah yang dibayangkan
Namun tidak pula serumit yang dipikirkan
Dua tahun janji yang harus ditepati
Tak perlulah menunggu,
Jika aku cinta sejatimu, aku akan datang
Jika bukan, maka orang lain lah yang akan lebih dulu meminangmu
Biarkan aku sendiri, dalam rasa yang kusimpan ini

Selamat pagi…
Ketika pemahaman itu menyapa
Perlahan ku mulai mengerti
Hanya saja malam ini
Aku terlanjur bahagia mengenalmu
Belumlah terlambat untuk memantaskan diri
Engkau tetap menawan
Secantik bunga yang kutatap pagi ini
Senatural cerita ini
Janji untuk menjadi lebih baik
Janji untuk tidak mengecewakan dan dikecewakan

Selamat pagi…
Menangis bukan berarti lemah
Menangis bukan berarti menyerah
Tidak, tidak ada dalam kamus hidupku soal putus asa
Engkau tetap ada dalam nama yang termaktub dalam doa
Pun seperti apa hasilnya kemudian
Aku ridho karena hari ini telah kugantungkan semua kepada yang memiliki hati
Ini tentang sebuah penerimaan
Semoga engkau dapat menjaga diri
Semoga engkau selalu menjaga hati
Aku akan kembali menata hati
Karena ada janji yang harus ditepati
Jangan pernah mengecewakan hati yang menaruh harapan padamu

_
Semarang, 1 Februari 2019