Sabtu, 02 Februari 2019



Foto pribadi: disebuah kota transit perjalanan indonesia-taiwan, Kowloon, Hongkong
(@wdnoviandi)

Satu hari terlewati sudah. Untaian kalimat-kalimat indah tersampaikan. Potongan harapan yang berubah menjadi sebuah janji. Dua tahun yang berat untuk ku jalani. Aku bersama tulisan-tulisan ini, akan menemani malam-malam yang sendiri.

Aku belum lama bertemu. Berjumpa pada waktu-waktu yang tidak tepat. Hanya hitungan hari. Seminggu tetaplah tujuh hari, sehari adalah hitungan dua puluh empat jam. Sedetik bersamamu saja tak ingin ku lewatkan. Waktu yang menyakitkan untuk dikenang. Tapi pahamilah, tidak selamanya kenangan itu menyakitkan. Hanya saja ada proses yang harus diterima dengan penerimaan yang baik.

Satu hari terlewati sudah. Hari-hari yang menjadi sepi. Ada hati yang harus menerima. Ada cinta yang harus dipahami. Melepaskan. Dipaksakan sekalipun rindu itu setiap hari semakin menjadi. Terimakasih untuk sebuah cerita. Terimakasih telah mau mengenal diri ini dengan baik. Aku akan tetap menyeleksi, memilih dan memutuskan. Begitupun dirimu. Bagiku, memilihmu adalah sebuah pilihan.

Selepas hujan turun. Selalu banyak kenangan melintas. Kenangan-kenangan yang tak sengaja hadir ditengah rumitnya kehidupan. Aku lebih tegar dari satu hari yang lalu. Cerita ini sederhana saja. Karena cinta membuatnya lebih sederhana.

Malam-malam dengan lampu yang menerangi. Bintang-gemintang yang berkelip. Rembulan yang sedikit redup tertutup awan. Mengilustrasi dipojok jendela kamar. Dua tahun yang harus ditepati. Janji untuk berbakti, mengikhlaskan perasaan. Jangan pernah lupakan bahwa kita pernah memiliki rasa yang sama.

Satu hari terlewati sudah. Satu hari yang cukup indah. Malam-malam dengan penuh senyuman. Suara-suara yang lembut, suara keputusan. Masih terekam dalam memori ingatan. Butuh waktu untuk benar-benar melepaskan.

Setiap yang singgah memberikan pelajaran. Setiap yang memutuskan harus menerima konsekuensi. Pun setiap yang berkomitmen harus menepatinya. Tak perlulah engkau larut bersedih hati. Jangan pula kau kecewakan hati ini. Semoga hari-harimu, hari-hariku selalu menjadi hari-hari yang baik. Diliputi dengan doa-doa yang sama. Doa-doa yang melesat ke langit, mengetuk pintu takdir. Untuk membersamai rasa diwaktu yang tepat. Meski kita ini berbeda.

Satu hari sudah terlewati dengan tegar.

_
Semarang, 2 Februari 2019


0 komentar:

Posting Komentar