Minggu, 10 Februari 2019

Foto pribadi : Sebuah Perjalanan di Yancheng District, Kaohsiung City, Taiwan
(@wdnoviandi)

Pagi menjelaskan lebih baik. Pagi yang selalu membuat hari tersenyum. Aku ditemani bunga-bunga yang sepi. Separuhnya aku titipkan. Jauh ditinggal perasaan. Jangan buat bunga-bunga itu layu. Senatural kisah ini. Biarlah ia tumbuh dan berkembang.

Ketika embun-embun bergelayut di dedaunan, udara melegakan. Mentari mengajariku semangat yang menghangatkan. Namun pagi ini ia tak terlihat dari ujung timur. Aku terbangun pagi bersama awan stratus dan bunga pagi.

Cinta itu bukan dicari. Ia datang dengan sebuah pertemuan-pertemuan yang tak terduga. Keajaiban-keajaiban yang datang. Sepertinya bunga lebih sabar menanti. Untuk tumbuh lalu berkembang. Mempercantik hati, mematangkan fisik, dan memantaskan diri. Saling memahami.

Setiap hari adalah berbeda. Tapi aku berharap esok pagi, hariku selalu dimulai dengan senyuman dirimu. Senyuman yang sama. Senyuman yang selalu menjadi alasanku untuk selalu bersemangat.

Biarkan aku tegar bersama pagi. Aku cukup mengerti, ketika tidak ada yang disembunyikan. Ketika perasaan itu mewakilkan. Bunga-bunga pagi yang menemani.

Pagi adalah awal yang baik. Penjelasan-penjelasan yang harus mulai dipahami dengan lebih baik. Saat pengharapan itu ditanamkan. Aku harap akan lebih baik jika kita menjaga bunga-bunga itu. Rawatlah ia dengan baik. Hingga esok kita memanennya bersama.

Mengapa tidak kita coba untuk duduk tenang. Melepas penat pagi dengan secangkir kopi, teh atau susu di pojok warung sebelah. Berharap esok adalah selalu menjadi pagi yang lebih baik. Mengejar segenggam harapan dan menggapai semua mimpi-mimpi. Mimpi-mimpiku dan mimpi-mimpimu. Mimpi bersama dengan visi yang sama.

Duduklah bersamaku pagi ini. Bersama bunga-bunga pagi ini. Nikmati pagi dengan senyuman hangat. Senyuman yang menjadikan alasanku untuk selalu bersemangat. Sehangat mentari pagi. Seperih apapun perasaanmu. Sesakit apapun soal menunggu. Jadilah bunga-bunga pagi yang selalu menawan.

_
Surabaya, 7 Februari 2019

Selasa, 05 Februari 2019

Tujuh puluh kilometer dari kota ini melesat dua buah roda menuju sebuah menara. Artistik yang mengesankan, begitu indah terhiasi nuansa kental jawa. Aku takjub menatapnya. Ornamen-ornamen antefiks menyempurnakan konstruksi itu. Akulturasi dakwah yang menyelaraskan perbedaan menjadi saksi sejarah bahwa pernah tegaknya kebenaran. Menara dengan ketinggian delapan belas meter itu berdiri kokoh. Tiang-tiang pancang yang gagah menjadi saksi bahwa betul-betul kebenaran itu pernah jaya di masanya.

Dua roda itu melesat dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam konstan. Cerita-cerita kuno dan kepercayaan-kepercayaan diluar nalar akal sehat merebak. 360 derajat berbanding terbalik dari masa jayanya kebenaran itu. Perlahan sudah semestinya pemahaman-pemahaman yang baik itu disampaikan. Penerimaan yang diterima secara perlahan itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ini adalah soal hati ke hati. Hikmah.

Jika kemarin ditemani ketidaksempuraan. Hari ini aku ditemani sebuah simpul kebahagiaan dengan harapan-harapan dan janji-janji yang harus ditepati. Mengajaknya menyusun cerita untuk sebuah mimpi. Karena hidup bukan cuma soal hari ini, pun bukan soal satu-dua hari. “Berjanjilah, aku akan berusaha menjadi yang terbaik.

“Tidak ada kata besok untuk urusan ini dik, besok saja. Lusa atau besoknya lagi, bisa jadi esok engkau akan seperti itu, mengulanginya. Siklus itu akan begitu-begitu saja, tetapi bertekadlah untuk selalu mulai hari ini, sekarang, dan menanam didetik ini. Berjanjilah, berjanji pada dirimu sendiri.

Esok, lusa atau lebih cepat dari kata nanti. Jika engkau merawat dan memupuknya dengan baik, kau akan menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan buah-buah ranum yang diharapkan oleh setiap insan. Mimpi-mimpi itu akan kau raih dengan indah. Percayalah”.

Aku menyeka pipiku yang basah. Hujan perlahan turun, lebat dengan sempurna. Dimulai detik ini aku berjanji untuk melaksanakan tugas-tugasku dengan baik, sebagai seorang anak, seorang adik, dan seorang laki-laki yang tangguh. Laki-laki yang akan membawa seseorang dalam keluarga. Aku harus kuat, setegar daun yang rapuh dihempas badai angin sore kemarin. Mengikhlaskan.

----------

Sore ini kabut hitam mulai menyelimuti awan. Sore dengan harapan-harapan yang panjang. Sore dengan helaan napas tertahan. Sore dengan rintikan hujan yang lembut. Aku tidak bisa memastikan hari ini, keputusan kemarin adalah sangat tepat. Aku tak memaksamu untuk menunggu. Untuk apa menunggu jika memang ada yang lebih baik untuk menemani sebuah perjalanan.

Bagiku sejarah bukanlah kenangan. Sejarah adalah kunci peradaban, kunci dari sebuah kebangkitan kebenaran. Jangan lupakan sejarah jika engkau sendiri tidak ingin dilupakan. Sekali lagi sejarah bukan soal kenangan. Sejarah ada untuk dipahami, sejarah ada agar engkau bisa berhikmah dalam bersikap. Santun dalam menyampaikan pemahaman yang baik.

Aku selalu mencoba mencari cara lain untuk membuat kisah ini menjadi cantik. Secantik harapan-harapan yang baik dengan tekad yang sama. Aku tak pernah seserius ini sebelumnya, pun sepertinya engkau begitu. Awan sore ini betul-betul cantik, sempurna membalikkan senja menjadi bendungan air yang tertahan. Hujan deras sore ini.

Rangkailah mimpi-mimpi mulai dari sekarang. Catatlah bahwa kita tidak lagi hidup dimasa lalu, jadikan itu pelajaran untuk menjadikan diri ini lebih baik. Hiduplah hari ini, dan pandanglah kedepan untuk menghadapi hari-hari yang kita rangkai bersama dalam doa.

Serapi apapun harapan yang disusun, bangunlah ia diatas kecintaan kepada Yang Maha Membolak-balikkan Hati agar engkau tak pernah mengalami kecewa. Berlindunglah hanya kepadaNya, mohonlah agar bisa saling menyempurnakan. Tidak pernah ada soal putus asa dalam kamus hidupku. Hari ini aku diam bukan berarti tidak serius, hanya saja caraku serius bukan dengan untaian kalimat-kalimat omong kosong. Caraku berbeda, seperti halnya aku dan dirimu

Tujuh puluh kilometer kembali melesat untuk kembali ke kota awal kami bertemu. Kota tempat kita mengukir lima tahun berkarya. Meninggalkan menara dengan sejarah yang tak terlupakan. Sempurna. Hujan sore ini begitu indah. Hari-hari yang lebih baik. Bersama biru, hitam dan kelabu.

Tempat ini adalah kota singgah. Kota yang penuh dengan sejarah. Maka jadilah saksi sejarah. Tidak sekadar singgah atau hanya menjadi tempat singgah. Menara, sebuah sejarah yang tak terlupakan. Saksi-saksi bisu, waktu-waktu yang mencatatnya bahwa kebenaran pernah jaya dimasa itu. Semoga pemahaman-pemahaman baik itu segera muncul. Perbedaan akan lebih indah asalkan dibangun pada prinsip yang sama.

Ketahuilah, sejarah itu takkan pernah terlupakan, kecuali memang dilupakan. Ia akan tercatat oleh waktu yang berbeda dengan sebuah kenangan. Ia hanya bisa diratapi atau boleh jadi ditangisi. 

Menara itu adalah menara kudus.
_
Semarang, 5 Februari 2019

Minggu, 03 Februari 2019

Foto pribadi : Weiwuying MRT station, Lingya District, Taiwan
(@wdnoviandi)


Aku sendiri tidak sempurna, jauh dari kata itu. Jika dirimu tidak bisa untuk menerima, saat ini juga aku memilih untuk mundur. Itu jelas akan lebih baik, suka atau tidak suka adalah pilihan.

Ketahuilah..
Aku tidak memilih yang sempurna. Aku memilih yang bisa bersama menjadi lebih baik, yang membersamai untuk menjalani hidup dan yang mau menerima ketidaksempurnaan. Soal sempurna atau tidak, sebetulnya itu bukan urusan kita.

Aku sendiri tidak sempurna. Urusan kita adalah mau belajar menjadi lebih baik atau tidak?
Bagiku ketidaksempurnaan itu mengajarkan banyak hal. Belajar menemukan hal-hal baru, memperbaiki setiap kekurangan dan berjuang untuk sebuah mimpi.

Ketidaksempurnaan mengajarkan arti sebuah penerimaan.

Jika enggan menerima, aku memilih mundur detik ini juga.
Jadilah diri yang siap untuk saling menyempurnakan.
Memantaskan diri.

_
Semarang, 3 Februari 2019

Sabtu, 02 Februari 2019



Foto pribadi: disebuah kota transit perjalanan indonesia-taiwan, Kowloon, Hongkong
(@wdnoviandi)

Satu hari terlewati sudah. Untaian kalimat-kalimat indah tersampaikan. Potongan harapan yang berubah menjadi sebuah janji. Dua tahun yang berat untuk ku jalani. Aku bersama tulisan-tulisan ini, akan menemani malam-malam yang sendiri.

Aku belum lama bertemu. Berjumpa pada waktu-waktu yang tidak tepat. Hanya hitungan hari. Seminggu tetaplah tujuh hari, sehari adalah hitungan dua puluh empat jam. Sedetik bersamamu saja tak ingin ku lewatkan. Waktu yang menyakitkan untuk dikenang. Tapi pahamilah, tidak selamanya kenangan itu menyakitkan. Hanya saja ada proses yang harus diterima dengan penerimaan yang baik.

Satu hari terlewati sudah. Hari-hari yang menjadi sepi. Ada hati yang harus menerima. Ada cinta yang harus dipahami. Melepaskan. Dipaksakan sekalipun rindu itu setiap hari semakin menjadi. Terimakasih untuk sebuah cerita. Terimakasih telah mau mengenal diri ini dengan baik. Aku akan tetap menyeleksi, memilih dan memutuskan. Begitupun dirimu. Bagiku, memilihmu adalah sebuah pilihan.

Selepas hujan turun. Selalu banyak kenangan melintas. Kenangan-kenangan yang tak sengaja hadir ditengah rumitnya kehidupan. Aku lebih tegar dari satu hari yang lalu. Cerita ini sederhana saja. Karena cinta membuatnya lebih sederhana.

Malam-malam dengan lampu yang menerangi. Bintang-gemintang yang berkelip. Rembulan yang sedikit redup tertutup awan. Mengilustrasi dipojok jendela kamar. Dua tahun yang harus ditepati. Janji untuk berbakti, mengikhlaskan perasaan. Jangan pernah lupakan bahwa kita pernah memiliki rasa yang sama.

Satu hari terlewati sudah. Satu hari yang cukup indah. Malam-malam dengan penuh senyuman. Suara-suara yang lembut, suara keputusan. Masih terekam dalam memori ingatan. Butuh waktu untuk benar-benar melepaskan.

Setiap yang singgah memberikan pelajaran. Setiap yang memutuskan harus menerima konsekuensi. Pun setiap yang berkomitmen harus menepatinya. Tak perlulah engkau larut bersedih hati. Jangan pula kau kecewakan hati ini. Semoga hari-harimu, hari-hariku selalu menjadi hari-hari yang baik. Diliputi dengan doa-doa yang sama. Doa-doa yang melesat ke langit, mengetuk pintu takdir. Untuk membersamai rasa diwaktu yang tepat. Meski kita ini berbeda.

Satu hari sudah terlewati dengan tegar.

_
Semarang, 2 Februari 2019


Jumat, 01 Februari 2019


Foto Pribadi: Zinnia Flower di kota Kaohsiung, Taiwan
(@wdnoviandi)


Selamat pagi…
Potongan waktu malam yang telah berganti
Pagi yang masih diliputi kesunyian
Tetesan embun yang mulai bergelayut rapi didedaunan
Rembulan yang perlahan redup
Fajar yang mulai tersenyum memberikan sebuah harapan
Tiada hati yang lebih indah daripada hati yang menerima
Keikhlasan yang tulus untuk memahami sebuah keputusan

Selamat pagi…
Malam yang telah terlewati
Air mata yang telah menghujam hati
Membasahi sedikit pelupuk mata
Aku menyeka seolah tegar dan engkaupun menangis tertahan
Sebuah kejelasan, yang memang harus dijelaskan
Aku takzim menatapnya, kagum dengan komitmennya
Janji-janji yang harus ditepati
Dua tahun yang harus dilewati

Selamat pagi…
Disaat ku kembali menatap langit yang mulai berubah
Potongan bintang yang perlahan menghilang
Tak seindah malam ini
Bintang yang jelas kulihat dihadapanku
Malam-malam yang menakjubkan
Sebuah keputusan
Janji-janji yang harus ditepati
Semangat itu harus kembali

Selamat pagi…
Waktu yang telah terlewati
Tidak seharusnya aku mengumbar rasa ini
Biarkan ia tetap tersimpan rapi dihati
Seperti sedia kala, mungkin tak akan sepedih ini
Seharusnya aku tak sejauh itu
Seharusnya aku tetap diam
Aku kecewa pada diriku sendiri
Janji-janji yang harus ditepati

Selamat pagi…
Ketika semangat harus disusun kembali
Menjalani tak semudah yang dibayangkan
Namun tidak pula serumit yang dipikirkan
Dua tahun janji yang harus ditepati
Tak perlulah menunggu,
Jika aku cinta sejatimu, aku akan datang
Jika bukan, maka orang lain lah yang akan lebih dulu meminangmu
Biarkan aku sendiri, dalam rasa yang kusimpan ini

Selamat pagi…
Ketika pemahaman itu menyapa
Perlahan ku mulai mengerti
Hanya saja malam ini
Aku terlanjur bahagia mengenalmu
Belumlah terlambat untuk memantaskan diri
Engkau tetap menawan
Secantik bunga yang kutatap pagi ini
Senatural cerita ini
Janji untuk menjadi lebih baik
Janji untuk tidak mengecewakan dan dikecewakan

Selamat pagi…
Menangis bukan berarti lemah
Menangis bukan berarti menyerah
Tidak, tidak ada dalam kamus hidupku soal putus asa
Engkau tetap ada dalam nama yang termaktub dalam doa
Pun seperti apa hasilnya kemudian
Aku ridho karena hari ini telah kugantungkan semua kepada yang memiliki hati
Ini tentang sebuah penerimaan
Semoga engkau dapat menjaga diri
Semoga engkau selalu menjaga hati
Aku akan kembali menata hati
Karena ada janji yang harus ditepati
Jangan pernah mengecewakan hati yang menaruh harapan padamu

_
Semarang, 1 Februari 2019