Tujuh puluh kilometer dari kota ini melesat dua buah roda menuju sebuah menara. Artistik yang mengesankan, begitu indah terhiasi nuansa kental jawa. Aku takjub menatapnya. Ornamen-ornamen antefiks menyempurnakan konstruksi itu. Akulturasi dakwah yang menyelaraskan perbedaan menjadi saksi sejarah bahwa pernah tegaknya kebenaran. Menara dengan ketinggian delapan belas meter itu berdiri kokoh. Tiang-tiang pancang yang gagah menjadi saksi bahwa betul-betul kebenaran itu pernah jaya di masanya.
Dua roda itu melesat dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam konstan. Cerita-cerita kuno dan kepercayaan-kepercayaan diluar nalar akal sehat merebak. 360 derajat berbanding terbalik dari masa jayanya kebenaran itu. Perlahan sudah semestinya pemahaman-pemahaman yang baik itu disampaikan. Penerimaan yang diterima secara perlahan itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ini adalah soal hati ke hati. Hikmah.
Jika kemarin ditemani ketidaksempuraan. Hari ini aku ditemani sebuah simpul kebahagiaan dengan harapan-harapan dan janji-janji yang harus ditepati. Mengajaknya menyusun cerita untuk sebuah mimpi. Karena hidup bukan cuma soal hari ini, pun bukan soal satu-dua hari. “Berjanjilah, aku akan berusaha menjadi yang terbaik.
“Tidak ada kata besok untuk urusan ini dik, besok saja. Lusa atau besoknya lagi, bisa jadi esok engkau akan seperti itu, mengulanginya. Siklus itu akan begitu-begitu saja, tetapi bertekadlah untuk selalu mulai hari ini, sekarang, dan menanam didetik ini. Berjanjilah, berjanji pada dirimu sendiri.
Esok, lusa atau lebih cepat dari kata nanti. Jika engkau merawat dan memupuknya dengan baik, kau akan menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan buah-buah ranum yang diharapkan oleh setiap insan. Mimpi-mimpi itu akan kau raih dengan indah. Percayalah”.
Aku menyeka pipiku yang basah. Hujan perlahan turun, lebat dengan sempurna. Dimulai detik ini aku berjanji untuk melaksanakan tugas-tugasku dengan baik, sebagai seorang anak, seorang adik, dan seorang laki-laki yang tangguh. Laki-laki yang akan membawa seseorang dalam keluarga. Aku harus kuat, setegar daun yang rapuh dihempas badai angin sore kemarin. Mengikhlaskan.
----------
Sore ini kabut hitam mulai menyelimuti awan. Sore dengan harapan-harapan yang panjang. Sore dengan helaan napas tertahan. Sore dengan rintikan hujan yang lembut. Aku tidak bisa memastikan hari ini, keputusan kemarin adalah sangat tepat. Aku tak memaksamu untuk menunggu. Untuk apa menunggu jika memang ada yang lebih baik untuk menemani sebuah perjalanan.
Bagiku sejarah bukanlah kenangan. Sejarah adalah kunci peradaban, kunci dari sebuah kebangkitan kebenaran. Jangan lupakan sejarah jika engkau sendiri tidak ingin dilupakan. Sekali lagi sejarah bukan soal kenangan. Sejarah ada untuk dipahami, sejarah ada agar engkau bisa berhikmah dalam bersikap. Santun dalam menyampaikan pemahaman yang baik.
Aku selalu mencoba mencari cara lain untuk membuat kisah ini menjadi cantik. Secantik harapan-harapan yang baik dengan tekad yang sama. Aku tak pernah seserius ini sebelumnya, pun sepertinya engkau begitu. Awan sore ini betul-betul cantik, sempurna membalikkan senja menjadi bendungan air yang tertahan. Hujan deras sore ini.
Rangkailah mimpi-mimpi mulai dari sekarang. Catatlah bahwa kita tidak lagi hidup dimasa lalu, jadikan itu pelajaran untuk menjadikan diri ini lebih baik. Hiduplah hari ini, dan pandanglah kedepan untuk menghadapi hari-hari yang kita rangkai bersama dalam doa.
Serapi apapun harapan yang disusun, bangunlah ia diatas kecintaan kepada Yang Maha Membolak-balikkan Hati agar engkau tak pernah mengalami kecewa. Berlindunglah hanya kepadaNya, mohonlah agar bisa saling menyempurnakan. Tidak pernah ada soal putus asa dalam kamus hidupku. Hari ini aku diam bukan berarti tidak serius, hanya saja caraku serius bukan dengan untaian kalimat-kalimat omong kosong. Caraku berbeda, seperti halnya aku dan dirimu
Tujuh puluh kilometer kembali melesat untuk kembali ke kota awal kami bertemu. Kota tempat kita mengukir lima tahun berkarya. Meninggalkan menara dengan sejarah yang tak terlupakan. Sempurna. Hujan sore ini begitu indah. Hari-hari yang lebih baik. Bersama biru, hitam dan kelabu.
Tempat ini adalah kota singgah. Kota yang penuh dengan sejarah. Maka jadilah saksi sejarah. Tidak sekadar singgah atau hanya menjadi tempat singgah. Menara, sebuah sejarah yang tak terlupakan. Saksi-saksi bisu, waktu-waktu yang mencatatnya bahwa kebenaran pernah jaya dimasa itu. Semoga pemahaman-pemahaman baik itu segera muncul. Perbedaan akan lebih indah asalkan dibangun pada prinsip yang sama.
Ketahuilah, sejarah itu takkan pernah terlupakan, kecuali memang dilupakan. Ia akan tercatat oleh waktu yang berbeda dengan sebuah kenangan. Ia hanya bisa diratapi atau boleh jadi ditangisi.
Menara itu adalah menara kudus.
_
Semarang, 5 Februari 2019
----------
Sore ini kabut hitam mulai menyelimuti awan. Sore dengan harapan-harapan yang panjang. Sore dengan helaan napas tertahan. Sore dengan rintikan hujan yang lembut. Aku tidak bisa memastikan hari ini, keputusan kemarin adalah sangat tepat. Aku tak memaksamu untuk menunggu. Untuk apa menunggu jika memang ada yang lebih baik untuk menemani sebuah perjalanan.
Bagiku sejarah bukanlah kenangan. Sejarah adalah kunci peradaban, kunci dari sebuah kebangkitan kebenaran. Jangan lupakan sejarah jika engkau sendiri tidak ingin dilupakan. Sekali lagi sejarah bukan soal kenangan. Sejarah ada untuk dipahami, sejarah ada agar engkau bisa berhikmah dalam bersikap. Santun dalam menyampaikan pemahaman yang baik.
Aku selalu mencoba mencari cara lain untuk membuat kisah ini menjadi cantik. Secantik harapan-harapan yang baik dengan tekad yang sama. Aku tak pernah seserius ini sebelumnya, pun sepertinya engkau begitu. Awan sore ini betul-betul cantik, sempurna membalikkan senja menjadi bendungan air yang tertahan. Hujan deras sore ini.
Rangkailah mimpi-mimpi mulai dari sekarang. Catatlah bahwa kita tidak lagi hidup dimasa lalu, jadikan itu pelajaran untuk menjadikan diri ini lebih baik. Hiduplah hari ini, dan pandanglah kedepan untuk menghadapi hari-hari yang kita rangkai bersama dalam doa.
Serapi apapun harapan yang disusun, bangunlah ia diatas kecintaan kepada Yang Maha Membolak-balikkan Hati agar engkau tak pernah mengalami kecewa. Berlindunglah hanya kepadaNya, mohonlah agar bisa saling menyempurnakan. Tidak pernah ada soal putus asa dalam kamus hidupku. Hari ini aku diam bukan berarti tidak serius, hanya saja caraku serius bukan dengan untaian kalimat-kalimat omong kosong. Caraku berbeda, seperti halnya aku dan dirimu
Tujuh puluh kilometer kembali melesat untuk kembali ke kota awal kami bertemu. Kota tempat kita mengukir lima tahun berkarya. Meninggalkan menara dengan sejarah yang tak terlupakan. Sempurna. Hujan sore ini begitu indah. Hari-hari yang lebih baik. Bersama biru, hitam dan kelabu.
Tempat ini adalah kota singgah. Kota yang penuh dengan sejarah. Maka jadilah saksi sejarah. Tidak sekadar singgah atau hanya menjadi tempat singgah. Menara, sebuah sejarah yang tak terlupakan. Saksi-saksi bisu, waktu-waktu yang mencatatnya bahwa kebenaran pernah jaya dimasa itu. Semoga pemahaman-pemahaman baik itu segera muncul. Perbedaan akan lebih indah asalkan dibangun pada prinsip yang sama.
Ketahuilah, sejarah itu takkan pernah terlupakan, kecuali memang dilupakan. Ia akan tercatat oleh waktu yang berbeda dengan sebuah kenangan. Ia hanya bisa diratapi atau boleh jadi ditangisi.
Menara itu adalah menara kudus.
_
Semarang, 5 Februari 2019
0 komentar:
Posting Komentar