Rabu, 11 September 2019



Foto pribadi : Di Sebuah Stasiun Kaohsiung, Taiwan (@wdnoviandi)

Terlepas benar atau salah, tapi kita harus percaya bahwa setiap proses adalah perjuangan dan setiap usaha adalah aksi nyata dari fraksi-fraksi mimpi yang tersusun rapi.
Sebuah sudut pandang dari seseorang yang tengah berjuang.

Golden Ticket
Berhubungan dengan kegalauanku beberapa waktu yang lalu memilih antara kerja dulu atau persiapan buat beasiswa?
Hmm.. membingungkan memang dan dua-duanya tidak pernah salah, juga tidak ada yang paling benar. Semua tergantung sudut pandang kita dalam memprosesi hidup ini.

Teruntuk buat para pencari beasiswa (scholarship hunters), kita harus mengenal apa yang namanya golden tiket.

Golden Ticket adalah sebuah keywords yang ku peroleh dari hasil riset dan sharingku dengan beberapa orang-orang yang berpengalaman dan dari beberapa tutorku di kampung-inggris, emang sih aku sendiri belum punya pengalaman banyak soal ini dan jujur saya sedang mengalami masa-masa ini, masa-masa dilema dengan pilihan, masa-masa bertumbuh dengan proses. Aku adalah Scholarship hunter, cita-citaku memang ingin melanjutkan studi karena aku punya mimpi untuk menjadi dosen/peneliti. Beberapa waktu yang lalu, aku sempat goyah, tergiur dengan beragam tawaran pekerjaan yang justru aku seharusnya lebih tenang untuk belajar banyak dari pengalaman dan wawasan orang di luar dari berbagai sudut pandang tentunya. Setidaknya aku bisa menganalisis dan belajar dari mereka, orang-orang yang menurutku menginspirasi dalam hidup.

Jadi, kita itu pastinya punya tujuan dalam hidup, dan punya cara masing-masing dalam menjalaninya, ada yang mulus (fast-track), ada juga yang merangkak seperti saya ini hahaha. Didalamnya ada pilihan-pilihan yang cukup rumit bagi kita menghadapi masa pasca-campus life. Kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu menjadi Job Seekers (julukan bagi orang yang mencari pekerjaan) atau Scholarship Hunters (julukan bagi orang2 pejuang beasiswa), #beda cerita lagi kalo job creator atau wedding performers atau apalah julukannya hihihi.

Kenapa scholarship  saya sebut pejuang, karena menurutku ini cukup berbeda prosesnya dengan job seeker, berbeda cara olahnya. Ketahanan mental dalam pikiran, usaha dan doa tentunya. Dua hal ini bakal menguji konsistenitas kita dalam menggapai sesuatu, saya juga pernah mendapatkan cerita tentang orang yang salah langkah dalam memilih dan akhirnya menyerah dengan kondisi yang dia pilih, dan dia bilang bahwa dia telah salah melangkah, "coba dulu ngga gini ya, tapi ya sudah jalani aja". Kalo analisisku itu yang dinamakan resiko. Setiap kita dalam memilih keputusan apapun itu pasti ada resikonya dan kita wajib bertanggungjawab atas keputusan yang dipilih. We should have a responsibility whatever we choose.

Kenapa job seeker dan kenapa scholarship hunters?

Pertanyaan ini sebenernya adalah pertanyaan retoris, yang sejatinya balik lagi ke diri kita masing-masing. Saya jadi teringat guru ngaji saya (sebut saja ustadz lah ya) itu pernah bilang tidak akan pernah berkumpul dua hal dalam satu fokus, contoh kita tidak bisa menikmati menghafal quran dibarengi dengan kita yang masih hobby menghafal lagu/nyanyian (musik), fokus kita akan terbelah, itu sudah fitrahnya manusia, begitupula dengan hal ini kita nggak bisa fokus dalam dua hal, job seeker iya, scholarship hunters iya. Intinya pilih salah satu jangan rakus haha, atau sederhananya deh ada dua nasi di dapur, yaitu nasi goreng dan nasi biasa, coba pernah gak makan dua-duanya sekaligus dalam satu piring, dan bagaimana rasanya? apa enak? saya pernah dan ngerasa enek makannya. Itu simpelnya.

Keputusan ada di tangan kita yang tentunya atas segala takdir yang telah Allah tetapkan sebelum penciptaan alam semesta ini, dan masa depan kita adalah bagaimana kita melangkah hari ini.

Lalu ada apa dengan Golden Ticket?
Golden ticket itu adalah kunci untuk bisa diterima dalam beasiswa, dan kita tahu bahwa setiap beasiswa mempersyaratkan kompetensi BAHASA INGGRIS/English Profiency Skill (IELTS/TOEFL) dan ini berlaku 2 tahun sertifikatnya. Beberapa scholarship bervariasi ada yang minta IELTS 5.5-6.6/ TOEFL ITP 500-550. Bagiku dapetin golden ticket itu nggak mudah, kenapa?
1. bukan Native (orang inggris asli)
2. nggak biasa belajar bahasa inggris
3. baru nyadar kalo itu penting untuk scholarship *penyesalan memang selalu datang di akhir

Nah,
jadi setelah berbagai pertimbangan, selagi kita masih disupport (dalam masalah finansial termasuknya), masih didukung oleh keluarga dan tidak ada hal yang mendesak, jika kita memang ingin menjadi Scholarship hunters coba buat fokus, selagi masih memiliki waktu luang dan kesempatan sebelum disibukkan dengan hal lain.

Prepare Yourself and Grab Your Golden Ticket Now!

Habis itu terserah deh, mau kerja dulu 6 bulan, setahun atau sebelum 2 tahun masa berlaku Golden Ticket itu, kita akan berada dalam posisi aman. Karena ketahuilah, beberapa orang bilang bahwa jika kita sudah sibuk bekerja, maka kita lupa dengan tujuan awal dan kita harus belajar bahasa inggris kembali untuk meraih Golden Ticket - beberapa nasehat yang diberikan oleh Tutor Interview Class (thanks Mr.)

Enaknya ketika kita udah dapet yang namanya Golden Ticket, maka kemanapun kamu bisa Apply dan duduk manis banyakin doa,

Beliau bilang juga menambahkan "Kalo kamu mau maksa ambil Job, berarti kamu berputar 180 derajat dari tujuanmu, maka saya saranin lupain scholarship dari sekarang!"  perjuangan hari ini nampak akan sia-sia. Terakhir, kembalikan lagi ke diri kita dan kenali diri kita lebih dalam. Banyak-banyak berdoa dan minta pertolongan Allah agar kita tidak salah dalam melangkah.

Fokus.

Selamat belajar.

Sebuah catatan kecil
ditulis di Pare, ba'da Maghrib 12 Muharram 1441 H
11 September 2019

0 komentar:

Posting Komentar